Chapter 1
Aku seorang siswi kelas 2 di salah satu sekolah menengah atas negeri di Jakarta. Hobiku membaca, aku suka membaca apapun yang menurutku menarik. Kadang sesuatu yang kubaca membuat aku lupa bahwa aku ini juga harus melakukan kegiatan lainnya. Jika kalian fikir aku adalah anak yang pendiam dan cupu, mungkin aku setuju. Memang begitulah aku.
Ah, iya aku hampir lupa. Namaku Merie. Kalian tau bukan arti dari nama itu? Ya, kebahagiaan. Orang tuaku berharap dengan memberi nama Merie, maka aku akan menjadi orang yang bahagia setiap saat. Tapi kurasa orang tuaku salah. Aku sama sekali nggak yakin kalau hidupku dipenuhi kebahagiaan.
Aku bukan orang yang pandai bergaul. Aku juga tidak terlalu suka berada di tempat ramai. Itulah sebabnya selama hampir 3 tahun aku bersekolah di sini, kalian bisa menghitung jumlah temanku dengan jari kalian. Saat istirahat sekolah anak-anak lain memilih berkumpul di koridor dan bersenda-gurau satu sama lain. Sedangkan aku memilih menggunakan waktu tersebut untuk tidur.
Ah, iya aku hampir lupa. Namaku Merie. Kalian tau bukan arti dari nama itu? Ya, kebahagiaan. Orang tuaku berharap dengan memberi nama Merie, maka aku akan menjadi orang yang bahagia setiap saat. Tapi kurasa orang tuaku salah. Aku sama sekali nggak yakin kalau hidupku dipenuhi kebahagiaan.
Aku bukan orang yang pandai bergaul. Aku juga tidak terlalu suka berada di tempat ramai. Itulah sebabnya selama hampir 3 tahun aku bersekolah di sini, kalian bisa menghitung jumlah temanku dengan jari kalian. Saat istirahat sekolah anak-anak lain memilih berkumpul di koridor dan bersenda-gurau satu sama lain. Sedangkan aku memilih menggunakan waktu tersebut untuk tidur.
~
Ini hari Senin. Hari paling melelahkan dalam seminggu. Aku selalu mencoba untuk mencintai hari ini. Tetapi sepertinya itu adalah hal yang sulit. Ada saja kejadian yang membuat hari ini tampak sangat membosankan dan tak membuatku bergairah.
Seperti pagi ini, aku berjalan gontai menuju kamar mandi. Aku masih sangat ingin memejamkan mata ini sebenarnya. Tapi bagaimana, aku tetap harus datang ke tempat menyebalkan bernama sekolah. Aku berusaha memberi semangat untuk diriku sendiri. "C'mon Merie, kamu harus sekolah. Hari ini ada ulangan, kamu nggak boleh males!" Selesai mandi dan berpakaian, aku lekas mengambil ransel hitam kesayanganku sambil berjalan ke meja makan untuk mengambil bekal yang sudah disiapkan Mama.
"Mer, kamu tuh kenapa sih sayang? Kamu nggak lagi sakitkan? Muka kamu pucet gitu, ini juga rambut acak-acakan begini." Mama menegur dengan nada gemas karena melihat penampilanku yang seadanya. "Nggak kok, ma. Merie nggak sakit, ini cuma males pakai bedak sama sisiran hehe.." Jawabku sambil mencium tangan Mama, tanda akan pamit ke sekolah.
"Mama tuh heran ya sama kamu. Mau ke sekolah kok males-malesan begini. Dulu waktu mama masih sekolah, rambut mama selalu rapi dan minimal pake bedak tipis biar nggak pucet gini. Ini kok punya anak perempuan malah acak-acakan begini. Nanti nggak ada yang naksir kamu deh kalo gini." kata Mama seraya mencubit gemas pipiku. Aku nyengir saja melihat mama berceloteh kesal. "Merie berangkat dulu ya, Ma. Kasian Ayah nunggu lama. Dah." kataku seraya berlalu.
"Kok lama, Mer?" tanya ayah ketika melihat aku menghampirinya. "Hehe maaf, yah. Mama ngomel dulu tadi ngeliat aku begini." jawabku sambil menunjuk rambut panjangku yang tidak tertata rapi. "Kamu itu memang kebiasaan ya. Yaudah ayok cepet nanti kamu terlambat."kata Ayah kesal.
"Mer, kamu tuh kenapa sih sayang? Kamu nggak lagi sakitkan? Muka kamu pucet gitu, ini juga rambut acak-acakan begini." Mama menegur dengan nada gemas karena melihat penampilanku yang seadanya. "Nggak kok, ma. Merie nggak sakit, ini cuma males pakai bedak sama sisiran hehe.." Jawabku sambil mencium tangan Mama, tanda akan pamit ke sekolah.
"Mama tuh heran ya sama kamu. Mau ke sekolah kok males-malesan begini. Dulu waktu mama masih sekolah, rambut mama selalu rapi dan minimal pake bedak tipis biar nggak pucet gini. Ini kok punya anak perempuan malah acak-acakan begini. Nanti nggak ada yang naksir kamu deh kalo gini." kata Mama seraya mencubit gemas pipiku. Aku nyengir saja melihat mama berceloteh kesal. "Merie berangkat dulu ya, Ma. Kasian Ayah nunggu lama. Dah." kataku seraya berlalu.
"Kok lama, Mer?" tanya ayah ketika melihat aku menghampirinya. "Hehe maaf, yah. Mama ngomel dulu tadi ngeliat aku begini." jawabku sambil menunjuk rambut panjangku yang tidak tertata rapi. "Kamu itu memang kebiasaan ya. Yaudah ayok cepet nanti kamu terlambat."kata Ayah kesal.
~
Setibanya di sekolah, aku langsung berpamitan dengan Ayah dan bergegas menuju ruang UKS untuk siap-siap berjaga di belakang saat upacara bendera berlangsung. Ya, meskipun aku termasuk orang yang tidak mudah bergaul, tetapi aku ikut aktif di ekstrakurikuler PMR. Kenapa? Karena PMR termasuk ekstrakurikuler yang tidak terlalu populer di sekolahku. Jumlah anggotanya pun tidak lebih dari 10 orang. Ketika aku tiba di ruang UKS, sudah ada Bilqis, Rashad, dan Rizky yang juga berjaga hari ini.
"Nggak heran deh kalo Merie telat." kata Bilqis sambil tersenyum kearahku. Aku yang merasa malu hanya bisa balas tersenyum. Aku memakaikan slayer ungu kebanggaanku, untuk menandakan aku dan ketiga temanku adalah petugas PMR yang akan berjaga. Selesai mengenakan slayer kami berdoa bersama dan segera bergegas menuju lapangan dan berbaris dibelakang siswa lain yang mengikuti upacara bendera.
Upacara Senin ini berlangsung lancar, tidak banyak juga siswa yang sakit dan dibawa ke UKS. Selesai upacara aku dan ketiga temanku langsung menuju ruang sekretariat. "Eh nanti pulang sekolah beresin ruangan yuk! Berantakan banget gini deh." Seru Bilqis. "Iya yuk! Biar enak kalo kita mau ngumpul disini." sautku. "Yaudah, oke. Oiya, aku titip kunci ruangan ya, Mer. Soalnya kelasku keluarnya sedikit telat nanti. Takut kalian kelamaan nunggu." Kata Rashad. Bel tanda masuk kelas berbunyi. Kami segera mengunci sekretariat PMR dan juga ruang UKS. Kemudian kami beriringan menuju lantai 2 dan berpisah menuju kelas masing-masing.
~
Ketika aku masuk kelas, temanku yang lain sudah berada disana lebih dulu. Setiap hari Senin, petugas PMR memang selalu masuk kelas terakhir. "Pagi Merie!" Sapa Salsa seraya tersenyum. "Pagi Sa!" Jawabku singkat. Semangatku pagi ini kembali menurun ketika menginjakkan kaki di kelas. Ya, menghadapi jam pertama di Senin pagi dengan pelajaran matematika membuatku enggan bersemangat. Kalian bisa bayangkan di hari Senin dengan pelajaran matematika di jam pertama itu seperti apa rasanya? Ah Tuhan, semoga hari ini cepat berlalu.
Setelah penantian panjang akhirnya bel tanda pulang sekolah berbunyi. Persis saat guru mata pelajaran terakhir meninggalkan kelas, aku bergegas keluar dan menuju ruang sekretariat PMR. Karena aku orang yang sore itu pertama kali tiba dan kebetulan aku yang memegang kunci sekretariat. Aku segera membukanya dan mulai membereskan apa yang bisa aku lakukan sebelum teman-temanku datang. Saat itu aku berniat untuk menaruh beberapa bambu tandu yang telah rusak ke gudang belakang. Namun, sesampainya aku di depan gudang. Aku melihat ceceran darah yang mengarah ke belakang gudang tersebut. Melihat itu, aku segera mengurungkan niat untuk menaruh bambu-bambu ini. Aku pun kembali ke ruang PMR sesegera mungkin. Di sana sudah ada Rashad, Bilqis, dan Rizky.
Upacara Senin ini berlangsung lancar, tidak banyak juga siswa yang sakit dan dibawa ke UKS. Selesai upacara aku dan ketiga temanku langsung menuju ruang sekretariat. "Eh nanti pulang sekolah beresin ruangan yuk! Berantakan banget gini deh." Seru Bilqis. "Iya yuk! Biar enak kalo kita mau ngumpul disini." sautku. "Yaudah, oke. Oiya, aku titip kunci ruangan ya, Mer. Soalnya kelasku keluarnya sedikit telat nanti. Takut kalian kelamaan nunggu." Kata Rashad. Bel tanda masuk kelas berbunyi. Kami segera mengunci sekretariat PMR dan juga ruang UKS. Kemudian kami beriringan menuju lantai 2 dan berpisah menuju kelas masing-masing.
~
Ketika aku masuk kelas, temanku yang lain sudah berada disana lebih dulu. Setiap hari Senin, petugas PMR memang selalu masuk kelas terakhir. "Pagi Merie!" Sapa Salsa seraya tersenyum. "Pagi Sa!" Jawabku singkat. Semangatku pagi ini kembali menurun ketika menginjakkan kaki di kelas. Ya, menghadapi jam pertama di Senin pagi dengan pelajaran matematika membuatku enggan bersemangat. Kalian bisa bayangkan di hari Senin dengan pelajaran matematika di jam pertama itu seperti apa rasanya? Ah Tuhan, semoga hari ini cepat berlalu.
Setelah penantian panjang akhirnya bel tanda pulang sekolah berbunyi. Persis saat guru mata pelajaran terakhir meninggalkan kelas, aku bergegas keluar dan menuju ruang sekretariat PMR. Karena aku orang yang sore itu pertama kali tiba dan kebetulan aku yang memegang kunci sekretariat. Aku segera membukanya dan mulai membereskan apa yang bisa aku lakukan sebelum teman-temanku datang. Saat itu aku berniat untuk menaruh beberapa bambu tandu yang telah rusak ke gudang belakang. Namun, sesampainya aku di depan gudang. Aku melihat ceceran darah yang mengarah ke belakang gudang tersebut. Melihat itu, aku segera mengurungkan niat untuk menaruh bambu-bambu ini. Aku pun kembali ke ruang PMR sesegera mungkin. Di sana sudah ada Rashad, Bilqis, dan Rizky.
"Ah kalian sudah sampai! Syukurlah, aku sedikit takut berada di sini sendirian." ujarku. Akupun menceritakan apa yang baru saja aku lihat sambil mengajak ketiga temanku ini untuk melihat situasi di gudang belakang. "Menurut kalian ini darah apa?" tanyaku pada ketiga temanku. "Sepertinya ini sesuatu yang serius. Tapi darahnya hanya tercecer hingga ke sini dan tidak ada apapun." jawab Rashad.
Kami berempat terus memperhatikan sekeliling, berharap ada petunjuk tentang ceceran darah tersebut. Namun, ternyata nihil. Sudah lebih dari satu jam kami berkeliling di area sekitar gudang belakang dan tidak ada satupun petunjuk yang terlihat. "Ah mungkin memang ini bukan apa-apa. Bisa jadi hanya darah imitasi yang suka digunakan oleh anak-anak teater." ucap Bilqis. Hampir saja aku dan Rashad sepakat, tiba-tiba Rizky mendatangi kami dengan tergesa. "Kalian harus lihat ini!" kata Rizky dengan nada gemetaran sambil menarik tangan Rashad dan tentunya diikuti Aku dan Bilqis.
Setibanya di tempat yang dimaksud Rizky, kami berempat langsung tercekat melihat pemandangan yang ada di hadapan kami saat ini. "Saa... Salsaaaa!!" ujarku hampir berteriak namun mulutku langsung dibekap oleh Rizky. "Mer, tenang dulu Mer. Jangan teriak-teriak gitu. Kita harus segera melaporkan ini ke guru dan penjaga sekolah." ucapnya.
Sambil terus mencerna apa yang sedang terjadi, kami bergegas ke ruang BK untuk menceritakan apa yang kami temukan di gudang belakang. Mendengar cerita kami, Bu Ratna guru BK langsung menelpon ambulans, polisi, dan tentunya orang tua Salsa.
~
Apa sebenarnya yang terjadi pada Salsa? Nantikan cerita selanjutnya ya!
Mana ceritaa selanjutnyaaaa
BalasHapus